Pengusaha Rafting Harap Untuk Berbenah

Akhir-akhir ini muncul berita mengejutkan karena terseretnya seorang WNA saat mengikuti arung jeram menjelajah Sungai Cisadane mendapatkan respon dan tanggapan dari Komisi IV DPRD. Mereka minta pengusaha pengelola atau operator arung jeram memperhatikan faktor keselamatan tamu atau konsumen, karena bila terjadinya lagi ada wisatawan yang meninggal karena terseret arus sungai Cisadane saat arung jeram, imbasnya citra wisata di Kabupaten Bogor akan tercoreng akibat hal semacam itu terjadi.

Pengusaha Rafting Harap Untuk Berbenah

“Pengelola atau operator jangan hanya memikirkan keuntungan saja, keselamatan tamu harus diutamakan, apalagi yang berstatus warga negara asing (WNA). Nah, kalau mereka yang tewas, gara-gara arung jeram, yang rugi bukan pengelola arung jeram saja, tapi Kabupaten Bogor kena dampaknya, karena akan kehilangan sumber pemasukan,” kata Anggota Komisi IV Habib Agil Alatas menaggapi kejadian tersebut.

Selain faktor keselamatan yang menjadi pertimbangan dan priortitas, politisi PPP yang tinggal di Cisarua ini meminta kepada pengusaha rafting khususnya bagian pengelola untuk tidak sembarang membuka dan mendirikan basecamp, karena hal tersebut akan merusak ekosistem sungai. “Pernyataan Pak Teuku iskandar, selaku ketua Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane tidak salah, karena kerusakan kawasan hulu di kedua sungai akan berdampak di daerah hilir, salah satunya banjir,” ungkapnya.

Pengusaha Rafting Harap Untuk Berbenah

Habib Agil pada kesempatan kali ini juga menghimbau kepada seluruh pengusaha serta operator arung jeram mengurus perizinan secara legal dan terdaftar. “Pokoknya jangan sampai ada pengelola yang usahanya tidak mengantongi izin, bukan hanya soal IMB, izin wisata, tapi harus dilengkapi dengan rekomendasi pemanfaatan sungai yang dikeluarkan BBWS CilCIS. Kan kalau semua izinnya lengkap berusaha pun jadi tenang, nah giliran tugasnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melakukan pembinaan, jangan mau enaknya sajalah,” tegasnya.

Aktivitas arung jeram di Sungai Cisadane sebenarnya bukan baru satu dua tahun, tapi sudah berlangsung lama, sebelumnya pada tahun 2003 lalu, Kepala Divisi Komunikasi Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Reymond Van Beekum, kemudian tahun 2016 seorang PNS asal Sumedang pun meregang nyawa di sungai yang bermuara di Teluk Naga, Tangerang ini.

 

Iklan