Ajarkan Bisnis Kepada Generasi Pengusaha Muda

Setiap langkah yang kita jalani adalah sebuah refleksi dari tindakan yang kita lakukan sebelumnya. Ketika kita bisa berjalan dengan baik makan goal yang akan dituju akan cepat tercapai dan pastinya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sama halnya dengan bisnis, bagi pengusaha muda yang baru akan memulai bisnis, pengusaha senior menjadi bahan teladan bagi dirinya untuk meniru atau menjadi inspirasi dalam berbisnis. Namun terkadang banyak pengusaha senior yang lebih baik diam dan tidak mau menularkan pengalaman dalam berbisnis kepada para generasi pengusaha muda untuk bisa mengembangkan bisnis.

Ajarkan Bisnis Kepada Generasi Pengusaha Muda

Berbeda dengan Chandra Ekajaya, pengusaha sukses yang satu ini selalu menekankan bahwa setiap apapun yang kita lakukan haruslah memiliki dampak yang baik kepada orang lain. Kaitanya dengan dunia bisnis, dirinya ingin semua pengalaman dan tips bagaimana menjalankan bisnis yang baik dan bisa tetap stabil mencapai kesuksesan ditularkan kepada para generasi baru pengusaha muda. Jangan sampai sebagai pengusaha lama atau senior yang sudah mengetahui bagaimana seluk beluk bisnis tidak ma mengajarkan pengetahuanya dan pengalaman kepada generasi pengusaha muda karena hanya mengedepankan ego persaingan bisnis.

Ajarkan Bisnis Kepada Generasi Pengusaha Muda

Hal ini yang coba dihindari oleh Chandra Ekajaya yang beranggapan bahwa mereka sebagai pengusaha muda harus mendapatkan bimbingan dari para pengusaha yang sudah memiliki pengalaman di dunia bisnis. Hal yang menarik adalah ketika pengusaha muda dan pengusaha senior bisa saling berkomunikasi dengan baik akan ide bisnis karena itulah yang menjadikan hal terpenting dalam sebuah komunikasi bisnis. Padahal dari para pengusaha muda sekarang muncul ide-ide bisnis unik dan baru yang sebelumnnya belum pernah terbayangkan oleh para pengusaha yang sudah lama terjun di dunia bisnis.

Salah satu yang sering dilakukan oleh Chandra Ekajaya dalam menjalin hubungan baik dengan para pengusaha muda adalah dengan sering mengadakan diskusi bersama. Diskusi dan pertemuan ini selain untuk mempererat tali persaudaraan juga sebagai sarana untuk sharing pengalaman tentang ide bisnis atau permasalahan bisnis yang mungkin dari diskusi tersebut bisa dicari jalan keluar dari hal tersebut.

Pepaya Calina Berbuah Manis Raup Untung Fantastis

Pria asal Malang Jawa Timur Chandra Ekajaya sukses mengembangkan pembibitan dan budidaya buah pepaya Calina. Dengan menugusung bisnis kemitraan bersama masyarakat, pria tampan ini sukses meraup jutaan rupiah per bulan. Omzet bisa mencapai Rp 10 juta per bulan dari usaha penjualan bibit dan perkebunan pepaya.

Chandra Ekajaya megnatakan usahanya yang didirikanya ini belum genap 1 tahun dan masih bisa dibilang merintis dan mulai dari nol. Dirinya membagi kegiatan bisnisnya menjadi 2 kategori, yaitu pembibitan pepaya dan kemudian untuk perkebunan pepaya dirinya juga memiliki lahan.

Pepaya Calina Berbuah Manis Raup Untung Fantastis

Untuk lahan dan Lokasi pembibitan Chandra Ekajaya mengatakan lahanya masih kecil, tetapi lahan tersebut sudah muat untuk empat ribu bibit pohon pepaya. Sedangkan untuk kebun pepaya baru memuiliki 100 pohon. Dirinya sangat sadar dengan lahan yang masih terbatas, dirinya berinisiatif mengusung bisnis dengan konsep kemitraan, sistem tersebut dengan menggandeng masyarakat membeli bibit darinya, lalu didampingi selama proses tanam, dan hasil panennya dibeli oleh dirinya. Namun dirinya juga tidak memaksa harus menjualnya kepada dirinya, petani bisa menjual sendiri pepaya langsung jika mereka inginkan.

Pepaya Calina Berbuah Manis Raup Untung Fantastis

Chandra Ekajaya menyebutkan bahwa saat ini kebutuhan buah khususnya pepaya di berbagai kota besar di Indonesia sedang mengalami peningkatan dan cukup besar dan jumlahnya terus meningkat. Satu kios buah dalam sehari sedikitnya membutuhkan pasokan 20 pepaya, dibayangan jika ada 10 saja toko buah, permintaan bisa mencapai ratusan buah pepaya hanya dalam waktu sehari. Hal inilah yang coba ditangkap oelh Chandra Ekajaya sebagai peluang usaha. Terlebih buah pepaya Calina sedang naik daun dan banyak konsumen yang menyukai daripada pepaya lokal.

Sampai saat ini keseluruhan masyarakat yang mengikuti kemitraa dengan Chandra Ekajaya untuk berkebun pepaya Calina sudah mencapai sekitar 50 orang. Mereka tersebar di seluruh wilayah Malang dan sekitarnya. Sedang luas lahan yang telah ditanami dari program kemitraan itu sudah mencapai puluhan hektar. Bukan hanya mengembangkan budidaya pepaya Calina di pasar domestic, bukan tidak mungkin kedepanya buah pepaya calina akan bisa dipasarkan hingga mancanegara atau di ekspor.

Rubah Talas Gunung Jadi produk Bernilai Ekonomis

Tumbuhan yang satu ini  nyaris tanpa diurus dan dibiarkan begitu saja oleh masyarakat,  talas gunung memiliki potensi bisnis yang sangat besar jika bisa diolah sedemikian rupa. Bagian dari talas mulai dari pelepah daunnya yang banyak digunakan sebagai pakan ternak, ternyata umbinya juga bisa dimanfaatkan menjadi makanan atau camilan yang menggiurkan dan berniali ekonomis jika diolah dengan benar.

Rubah Talas Gunung Jadi produk Bernilai Ekonomis

Melihat hal ini kemudian Luh Wiriadi  untuk dikreasikan menjadi produk camilan dengan mengusung brand organik yang gurih dan digemari oleh masyarakat Kota Denpasar. Kemudianp pada tahun 2014 Luh Wiriadi mengolah menjadi keripik talas dan kemudian dikemas 100 gram dengan label Luh Buleleng.

Produk Luh Buleleng kemudian coba diperkenalkan kepada masyarakat setelah diikutsertakan dalam even pameran yang sering diadakan di berbagai tempat, hingga akhirnya beberapa toko oleh-oleh dan restoran di Bali tertarik dengan produk tersebut dan kemudian melakukan pemesanan.

Inovasi produk dilakukan oleh Lu Wiriadi dalam menyajikan olahan variasi produk, Luh Wiriadi tidak hanya menjual keripik talas gunung, namun juga telah membuat keripik singkong bumbu (krepet), keripik pisang dan keripik singkong. Produk lainnya adalah permen kopyos, yang dibuat dengan campuran kopi dan gula merah, sehingga bercita rasa khas.

Rubah Talas Gunung Jadi produk Bernilai Ekonomis

Inovasi lainya yang dilakukan dalam produksi produk keripik talas adalah menghadirkan produk souvenir jajanan yang dikemas dalam wadah unik, buatan perajin Buleleng. Seperti wadah keben atau kotak anyaman. Dalam wadah ini, disusun berbagai macam jajanan seperti buah, rengginang, dodol, satuh, iwel, dan telur asin bakar. Jajanan ini lazim digunakan masyarakat ketika hari raya. Tak heran ketika mendekati Hari raya, pesanan souvenir jajanan ini sontak melonjak tajam. Harga souvenir jajanan ini berkisar Rp 300 ribu – Rp 500 ribu per wadah.

Bisnis camilan sendiri merupakan salah satu bisnis yang sangat menjanjikan, banyak pengusaha sukses yang lahri dari bisnis camilan seperti ini, salah satunya adalah bisnis Q Pizza dan Keripik Singkong milih pengusaha sukses Chandra Ekajaya.

Yang menjadi salah satu inti dari bisnis semacam ini seperti yang dijalankan oleh Luh Wiriadi, Chandra Ekajaya, dan pengusaha lainya adalah inovasi dan kreatifitas menghasilkan produk berkualitas dan unik. Dari situlah konsumen akan secara tidak langsung membeli produk tersebut karena unik.

Martabak Mas Berto Martabak Rendang Sang Ibu

Martabak adalah salah satu makanan yang sudah sangat populer di Indonesia dan terkenal oleh masyrakat. Kebanyakan martabak pada umumnya yang dijual hanya itu-itu saja, namun kali ini ada sajian martabk unik yang tidak boleh sampai terlewatkan. Tepatnya di Jalan Abdul Rachman Saleh, Kestalan, Banjarsari, Solo, ada satu kedai yang menyajikan martabak dengan rasa rendang.

Jika berkunjung ke kedai tersebut mungkin bisa dilihat tidak jauh berbebeda dengan penjual martabak pada umumnnya. Namun ada sesuatu hal yang membedakan yaitu aroma rendang yang keluar dari martabak yang membedakan dengan martabak pada umumnya. Ternyata ada bumbu rahasia yang dicampurkan di adonan martabak sehingga aroma martabak menjadi seperti rendang.

Martabak Mas Berto Martabak Rendang Sang Ibu

Martabak rendang buatan kedai Mas Berto tersaji dengan berbagai macam ukuran dan pilihan bahan tambahan yang tersedia mulai dari jamur. Rasa unik martabak tersebut dapat dinikmati dengan kisaran harga 28 ribu hingga 35 ribu rupiah berbeda setiap ukuran dan isi martabak. Ratna Yuliana pemilik Kedai Mas Berto mengungkapkan bahwa setiap harinya dirinya bisa menjual hampir 80 porsi martabak di hari biasa, bahkan jika weekend bisa naik menjadi 150 prosi dalam satu hari.

Awal membuka bisnis martabak sampai sekarang sebenarnya dirinya tidak pernagh terpikir untuk menjadi pengusaha di bidang cemilan terutama martabak. Sebelumnya bahkan dirinya tidak pernah bersentuhan langsung dengan masalah bisnis apalagi dengan bisnis kuliner. Salah satu yang membuat dirinya sampai terjun di dunia bisnis kuliner martabak adalah kegemaran anak bungsunya yang sangat menggemari martabak. Dari situlah dirinya berniatan untuk membuka usaha martabak, setelah itu dirinya berlajar membuat martabak dengan pedagang martabak langgananya.

Martabak Mas Berto Martabak Rendang Sang Ibu

Namun Ratna tidak ingin hanya membuat olahan martabak begitu saja seperti lainya, kemudian dirinya terpikir untuk membuat inovasi baru dengan menambahkan martabak dikombinasikan dengan berbagai rasa unik. Termasuk salah satunya rendang.

Inovasi memang sangat diperlukan dalam membuat suatu produk bisnis, inilah juga yang digunakan oleh pengusaha lain seperti Chandra Ekajaya dalam memulai bisnis, salah satu yang menjadikan pengusaha sukses dan produknya laris manis menurut Chandra Ekajaya, Ratna Yuliana dan pengusaha lainya adalah inovasi produk berbeda dengan lainya.

Bukan hanya menyediakan martabak telor saja, Kedai Mas Berto milik Ratna Yuliana juga menyediakan martabak manis beraneka rasa yang pastinya tidak kalah enak. Kedai Martabak Mas Berto buka pukul 13.00 WIB dan tutup pada 21.00 WIB.